Jumat, 19 Maret 2010

KALIMAT EFEKTIF




Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan sehingga berpengaruh dan berkesan pada pendengar atau pembaca seperti pikiran pembicara atau penulis. Kalimat efektif mempunyai tujuh ciri, yaitu kesepadanan struktur, kepararelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan pikiran.


1. Kesepadanan Struktur

Kesepadanan bermakna sepadan antara pikiran (gagasan) dengan struktur bahasa yang digunakan. Kesepadanan dapat diperoleh dengan syarat-syarat berikut.

1)    mempunyai S dan P yang jelas

Untuk memenuhi syarat ini, harus dihindari kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, dan menurut di depan S.

2)    tidak terdapat S ganda
Contoh: Soal itu saya kurang jelas Soal itu bagi saya kurang jelas

3)    kata penghubung intar kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
contoh: ia menyadari sepenuhnya kalau manusia tidak bisa hidup sendiri. Sehingga amatlah perlu hidup bermasyarakat.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan dua cara, yaitu:
a. dijadikan kalimat majemuk
Ia menyadari manusia itu tidak bias hidup sendiri, sehingga amatlah perlu hidup bermasyarakat.
b. penghubung intar kalimat diganti dengan penghubung antar kalimat
Ia menyadari manusia tidak bias hidup sendiri. Oleh karena itu, amatlah perlu hidup bermasyarakat.

4)     predikat kalimat tidak didahului kata yang

2. Kepararelan Bentuk


Kasamaan bentuk kata harus digunakan dalam satu kalimat, yaitu kesamaan imbuhan yang digunakan.
Contoh: tahap akhir pembangunan gedung itu adalah pengecatan tembok, pemasangan lampu, dan penataan kursi.

Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.

Kalimat itu harus diubah :

1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan

2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.





3. Ketegasan Makna


Ketegasan makna adalah penekanan atau penonjolan makna yang penting atu ide pokok kalimat. Ada lima cara untuk menegaskan makna dalam kalimat:
1) kata yang ditonjolkan diletakkan di awal kalimat
Contoh: ini baru kue----ini kue baru
2) dibuat urutan logis
Contoh: bukan seratus, seribu, sejuta, tapi berjuta-juta dia telah menyumbang panti asuhan ini
3) dilakukan pengulanagn kata
Contoh: aku suka kecantikannya, aku suka kelembutannya
4) dilakukan pertentangn ide yang ditonjolkan
Contoh: bulan tidak memilki cahaya, tetapi memantulkan cahaya dari matahari
5) digunakan partikel penegas
contoh: Engkaulah ketua kelas kami.



4.  Kehematan Kata


Hemat menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu tanpa menyalahi kaidah tata bahasa. Penghematan kata dapat dilakukan dengan mengikuti kaidah berikut.
1) menghilangkan pengulangan S
Contoh: hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui presiden datang
Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui presiden datang
2) menghilangkan pemakian superordinat pada hiponimi kata
Contoh: Andi menggoreng ikan mujair dan ikan gurami
Andi menggoreng mujair dan gurami
3) menghindari kesinoniman dalam kalimat
Contoh: Sejak dari pagi, ia hanya duduk-duduk saja
Sejak pagi ia duduk-duduk saja
4) tidak menjamakkan kata yang sudah jamak
Contoh: Para hadirin sekalian…

Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.

Kalimat yang benar adalah:

Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.





5.  Kecermatan Penalaran


Sebuah kalimat tidak boleh menimbulkan tafsiran ganda sehingga harus tepat pemilihan katanya.
Contoh: Andi adalah pemenang lomba melukis anak tahun ini
Andi adalah pemenang lomba melukis tingkat anak tahun ini



6.  Kepaduan Gagasan


Kepaduan pernyataan dalam kalimat sangat penting sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan mencerminkan pikiran yang sistematik.
Contoh: Surat itu saya sudah baca
Surat itu sudah saya baca



7.  Kelogisan Bahasa


Kelogisan bahasa adalah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal manusia. Penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Contoh: Tempat dan waktu kami persilahkan
Bapak Sutijo kami persilahkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar